Published On: Tue, May 29th, 2012

LESUNG, Alat Musik Tradisional

Jhonlin Bartama

“Tek, tok, tek, dug, tek, tok, tek, dug, teng, tug , dug”, suara lesung (alat penumbuk padi) yang ditumbuk oleh beberapa orang saling bergantian dengan tetabuhan yang dikenal sebutan “Klotekan Lesung”. Kesenian tradisional lesung sudah mulai jarang dimainkan lagi, Lesung merupakan alat untuk menumbuk padi yang digunakan oleh petani-petani di pelosok pedesaan. Gejog lesung hingga saat ini tak banyak diminati oleh kaum muda. Bahkan, pementasan alat musik ini, hanya terbatas pada acara-acara besar saja misalkan penyambutan Bupati Tanah Bumbu di rumah Sandro sehari sebelum acara Malarung (memberikan makan dilaut) dilaksanakan.

Dahulu kala konon alat musik ini merupakan hiburan para petani ketika selesai menumbuk padi di lesung, mereka kemudian bernyanyi dengan iringan ketukan alu (penumbuk padi) ke lesung kosong. Mereka bernyanyi sambil bercanda. Kata Japri (Sandro pesta adat Mappanretasi) saat ditemui di rumahnya. Perkembangan zaman yang membuat petani tidak menggunakan lesung untuk menumbuk padi menjadi beras itu sebabnya perlahan-lahan Seni ini hampir tidak di minati lagi kaum muda kecuali orang orang tua. Lesung sendiri sebenarnya hanya wadah cekung, biasanya dari kayu besar yang dibuang bagian dalamnya. Gabah yang akan diolah ditaruh di dalam lubang tersebut. Padi atau gabah lalu ditumbuk dengan alu, tongkat tebal dari kayu, berulang-ulang sampai beras terpisah dari sekam.

Sebuah alat musik yang cukup unik mampu menghasilkan alunan nada yang begitu indah hingga membuat suasana malam itu terasa lebih nyaman dan di ikuti serangkaian ritual masyarakat sebelum besok pagi turun ke laut. “Tek, tok, tek, dug, tek, tok, tek, dug”, begitu bunyinya kata Juara pemilihan Duta Wisata Tanah Bumbu akrabnya Icha. Menurutnya, “melestarikan kesenian tradisional yang nyaris punah sekaligus untuk menjalin tali silaturahim yang telah menjadi watak masyarakat kita.

Para remaja tidak ada yang mau menekuni kesenian ini karena dianggap tidak modern. Padahal, kesenian ini semestinya dijaga oleh generasi muda. Karena melestarikan sebuah seni itu sama saja mengabdi atau berusaha mengangkat budaya ataupun seni yang sebelumnya ada. Dengan begitu apa yang menjadi milik kita tetap ada dan tidak diakui oleh siapa pun”.