Bahagia Saat Melihat Orang Lain Bahagia

Jhonlin Baratama

Sering kita menyaksikan orang seakan tidak menerima kalau orang lain itu bahagia. Bahagia yang dimaksud di sini ketika orang lain itu tercapai keinginannya. Misalnya, bisa membangun rumah, membeli mobil, beli perabotan baru, anaknya memperoleh juara, sukses berbisnis, sukses study, promosi jabatan, dsb. Untuk di area kerja, bahkan ada yang sinis terhadap teman sekantornya yang mendapat promosi jabatan, melihat orang lain mendapatkan kesempatan apa yang diinginkannya, bahkan ada yang sesak nafasnya saat melihat orang lain bisa tersenyum.Iya,tak senang lihat orang lain sedang senang. Sungguh  kasihan. Meski konfliknya tidak sampai terbuka, tetap saja kurang elok. Malah konflik yang terpendam ibarat bom waktu, tinggal menunggu momen tepat untuk meledak.

Inilah masalahnya. Kebahagian orang lain selalu dipandang sinis. Malah kadang lebih dramatis. Ketika bertemu dengan siapa saja selalu menyebarkan berita dengan membumbui aneka ragam gossip yang melebihi takaran beritanya. Seakan tak sudi melihat orang lain bahagia. Itulah Sebabnya Wajah Anda Tak Berseri.
Coba perhatikan, betapa menderitanya orang yang terbebani melihat orang lain bahagia. Sudahlah  tidak merasakan kebahagiaan orang lain, malah ditambah dengan beban mikirin orang lain. Bukankah ini beban ganda? Beban ganda yang tak berguna.
Setiap hari pikirannya diteror oleh kebahagiaan orang lain. Kemampuannya untuk keluar dari beban pikirannya nyaris lumpuh.

Lama-lama keseimbangan tubuhnya akan terganggu. Prosesnya dimulai dari ketumpulan hati, kebekuan pikiran, dan akhirnya kelumpuhan tubuh. Makanya banyak orang yang kesehatannya terganggu karena hati dan pikirannya tidak bahagia. Hidup pun menjadi tidak tenang. Berpengaruh kepada aura wajahnya yang kelamaan akan memudar cahayanya. Satu hal lagi , orang lain selalu dianggap ancaman. Selalu dianggap pesaing. Ketika persepsi terhadap orang lain seperti itu, maka wajar jika orang semacam ini mulai pasang kuda-kuda untuk kepentingan self defense. Orang lain adalah “musuh”. Karena musuh, maka musuh tak boleh bahagia. Sebaliknya, ia harus terus menderita.

Jadi, jika ada ada orang yang memasang wajah sinis melihat orang lain bahagia, akarnya ada pada hati yang diselimuti iri dan dengki. Sifat ini dalam agama dianggap seperti tumpukan kayu bakar yang dilalap api, yang selalu menjadikan hati mendidih saat membangun relasi dengan orang lain, terutama yang dikarunia kebahagiaan.

Nah, jalan keluarnya bagaimana? Mudah diucapkan tetapi sungguh sulit melakukannya. Ketika melihat orang lain bahagia, cukup ucapkan Alhamdulillah. Meski sulit, harus dipaksa. Sambil mengucapkan, resapi hingga ucapan itu memenuhi ruang paru-paru, ikut tarikan nafas kita, dan akhirnya menyemburkan hawa dingin ke seluruh anggota tubuh kita. Memang mengucapkan Alhamdulillah bukan semata gerak lisan, yang bagus sekaligus gerakan hati. Tetapi mengucapkan dilisan saja masih mending ketimbang tidak sama sekali.( Oleh: A. Dardiri Zubairi )