
Batulicin – Puluhan ribu jemaah memadati Masjid Agung Al Falah, Desa Gunung Antasari, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Kamis malam (1/1/2026), dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan Haul Guru Sekumpul serta Haul almarhumah Hj. Wardatul Wartiah binti H. Abdul Samad. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Batulicin Festival (Batfest) 2025 dan menjadi salah satu agenda keagamaan terbesar di awal tahun.
Sejak sore hari, jemaah berdatangan dari berbagai daerah hingga kawasan masjid dan sekitarnya dipadati lautan manusia. Sejumlah tokoh nasional dan daerah turut hadir, di antaranya Bupati Tanah Bumbu terpilih Andi Rudi Latif, unsur Forkopimda provinsi dan kabupaten, tokoh agama, serta H. Syamsuddin Andi Arsyad atau Haji Isam bersama putranya, Jhony Saputra.
Acara dimulai sekitar pukul 20.30 Wita dengan pembacaan maulid oleh grup Maulid Habibi Huwa Sekumpul. Suasana khusyuk semakin terasa saat pembacaan Al-Fatihah dan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Busyairi, qari internasional asal Tanah Bumbu.
Mantan Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, mewakili keluarga besar Haji Isam, menyampaikan rasa syukur atas kebersamaan jemaah. “Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT kita dapat berkumpul bersama untuk memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Haul Abah Guru Sekumpul, dan Haul ibunda tercinta Haji Isam, Hj. Wardatul Wartiah,” ujarnya. Ia menegaskan haul sebagai wujud bakti kepada orang tua sesuai perintah Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra ayat 23 dan 24.
Sekitar pukul 21.00 Wita, Ustadz Abdul Somad menyampaikan tausiah. Dalam ceramah singkatnya, ia mengingatkan makna haul sebagai pengikat ingatan lintas generasi. “Haul adalah ungkapan kasih sayang. Ibu boleh telah tiada, tetapi doanya tidak pernah putus dari hati anak-anaknya,” ujar Ustadz Abdul Somad di hadapan puluhan ribu jemaah.
Ia menekankan bahwa menghadirkan anak-anak dalam kegiatan haul merupakan bentuk pendidikan nilai sejak dini. “Anak-anak yang dibawa malam ini akan tumbuh dengan ingatan bahwa menghormati orang tua adalah bagian dari iman,” katanya.
Tausiah berlangsung sekitar satu setengah jam dan ditutup dengan doa bersama. Jemaah meninggalkan lokasi dengan penuh kekhidmatan dan harapan agar kegiatan keagamaan seperti ini terus dilaksanakan sebagai ruang dakwah, silaturahmi, serta penguatan nilai keislaman di Tanah Bumbu.





