BATULICIN – PT Dua Samudera Perkasa bersama Jhonlin Institute kembali menyelenggarakan Jhonlin Leadership Development Program for Officer sebagai bagian dari upaya memperkuat kompetensi kepemimpinan sumber daya manusia di lingkungan Jhonlin Group. Jhonlin Institute sendiri merupakan departemen atau pusat pelatihan internal di bawah naungan Jhonlin Group yang berfokus pada pengembangan kompetensi karyawan melalui peningkatan soft skill dan hard skill. Pelatihan yang berlangsung di Ruang Gaharu Lantai 2, Jhonlin Office Building, Batulicin, pada 29–30 Juni 2026 ini diikuti 50 peserta level officer dari seluruh departemen dan site operasional yang dibagi dalam dua batch, masing-masing berjumlah 25 orang.
Program ini menjadi penyelenggaraan keenam sejak pertama kali digelar dan merupakan bentuk komitmen Jhonlin Group dalam menyiapkan calon-calon pemimpin yang adaptif, profesional, serta mampu menghadapi tantangan bisnis yang terus berkembang.

HR & Implementation Manager PT Dua Samudera Perkasa, Arkhamar Rokhimin, mengatakan pelatihan tersebut merupakan kesempatan berharga bagi para officer untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan sekaligus mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang mampu membawa tim dan perusahaan terus bertumbuh.
Menurutnya, kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan mencapai target perusahaan, tetapi juga dari kemampuan membangun karakter, mengembangkan potensi anggota tim, dan menjadi teladan. Ia mengutip filosofi Ki Hadjar Dewantara, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” sebagai nilai yang tetap relevan dalam kepemimpinan modern.
“Filosofi tersebut masih sangat relevan dalam kepemimpinan modern. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mampu menginspirasi, membimbing, dan mengembangkan timnya agar tumbuh bersama,” ujar Arkhamar.
Ia menambahkan, pelatihan ini diharapkan menjadi momentum bagi peserta untuk memperluas wawasan serta mengimplementasikan ilmu kepemimpinan di lingkungan kerja masing-masing.
“Pemimpin yang baik mampu mencapai target perusahaan. Namun, pemimpin yang hebat adalah mereka yang mampu membangun karakter dan melahirkan pemimpin-pemimpin baru di dalam organisasi,” tegasnya.

Sementara itu, VP of Corporate Human Capital Jhonlin Group, Tri Oktaria Wulandari, menekankan bahwa kepemimpinan yang efektif selalu diawali dengan kemampuan memimpin diri sendiri. Dalam sesi pembukaan, ia menjelaskan pentingnya memahami karakter dan potensi individu melalui pendekatan Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), bukan untuk membandingkan seseorang, melainkan membantu setiap individu mengenali kelebihan yang dimiliki.
“MBTI bukan untuk menentukan mana tipe kepribadian yang lebih unggul. Setiap orang memiliki kekuatan dan potensi yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengenali diri sendiri, lalu mengembangkan potensi tersebut agar memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi,” katanya.
Tri juga memperkenalkan konsep Iceberg Theory yang menggambarkan bahwa kemampuan seseorang yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari potensi sebenarnya. Menurutnya, baik introvert maupun extrovert memiliki peluang yang sama untuk berkembang selama memiliki kemauan belajar dan profesional dalam menjalankan tanggung jawab.
“Ketika kita diberikan tugas yang mungkin berada di luar zona nyaman, jalani dengan sepenuh hati. Justru melalui tantangan itulah kompetensi akan terbentuk, pengalaman bertambah, dan kita berkembang menjadi seorang profesional yang ahli di bidangnya. Itulah salah satu bentuk loyalitas terhadap perusahaan,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga mendapatkan materi Leading Operations Excellence Through People, Performance and Safety yang disampaikan Asisten Manajer Operasional Jhonlin Institute, Rahmadsyah. Pada sesi Basic Leadership Skill, ia menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan membangun kepercayaan dan rasa hormat melalui tiga aspek utama, yakni memimpin diri sendiri, memimpin orang lain, dan memimpin pekerjaan.
Rahmadsyah turut menanamkan nilai Personal Value yang terdiri atas Passion, Excellence, Responsibility, Service, Ownership, Attitude, dan Learning sebagai karakter dasar seorang pemimpin. Selain itu, peserta dibekali keterampilan komunikasi efektif, active listening, coaching, penyelesaian konflik, pengambilan keputusan, hingga penerapan budaya keselamatan kerja sebagai bagian dari kepemimpinan operasional.
“Harapan kami, setelah mengikuti pelatihan ini para peserta mampu menjadi pribadi yang kompeten, adaptif, serta siap memimpin tim dengan mengedepankan kinerja, keselamatan, dan kolaborasi,” ujar Rahmadsyah.

Pelatihan ditutup dengan materi Budaya Jhonlin Group yang kembali disampaikan oleh Asmen Trainer Technical Jhonlin Institute, Diran Marjali. Ia memaparkan budaya kerja perusahaan yang berlandaskan nilai inti RESPECT, yaitu Result Oriented, Efficient, Safety, Persistent, Environment, Commitment, dan Team Work. Menurutnya, penerapan nilai-nilai tersebut secara konsisten menjadi fondasi dalam membangun organisasi yang profesional, produktif, dan berkelanjutan.
“Budaya kerja yang kuat merupakan fondasi penting untuk membangun organisasi yang produktif, profesional, dan berkelanjutan. Dengan menerapkan nilai-nilai RESPECT secara konsisten, kita dapat menciptakan sinergi yang lebih baik, meningkatkan motivasi kerja, dan mendorong pencapaian target perusahaan secara optimal,” tutup Diran.





